Minggu, 12 Oktober 2008

Jika kita lahir dari kebenaran Cinta,
kenapa harus mata jiwa dipaksa buta?
Jika kita lahir dari keberanian Cinta,
kenapa harus degup bathin dibiarkan membatu?
Jika kita lahir dari keindahan Cinta,
kenapa harus selaksa mata menata leluka?


Jika kita lahir dari kemerdekaan Cinta,
kenapa harus sabda tak kunjung bersuara?
Jika kita lahir dari kesetiaan Cinta,
kenapa harus kalah meraba kisah?
Jika kita lahir dari keabadian Cinta,
kenapa harus nurani dilarang menari?


Jika kita lahir dari penempuhan Cinta,
kenapa harus usia harapan adalah angan kematian?
Jika kita lahir dari kelembutan Cinta,
kenapa harus detik bathin demikian dingin?
Jika kita lahir dari kejujuran Cinta,
kenapa harus makna terpenjara dusta?
Kenapa harus jika?

Tidak ada komentar: