Betapa ingin aku tetap berpaut denganmu
Seperti temali Tuhan di kerapuhan iman ini
Seperti napas Tuhan di urat leher kita
“Berjalanlah disampingku, sepenuh usia dan sendu.”
Lalu tibalah rindu ini di rumah-rumah hikmah
—tempat kita tak lelah memanen makna
dalam perbendaharaan peristiwa
Dan kitapun dipergilirkan
seperti musim dan warna cuaca yang
berubah-ubah, berganti-ganti
Disana, segala pertemuan akan menjadi seluas
pengetahuan dan perpisahan menjadi seraih pelajaran
“Temani aku, Dik, sebab kita fana dilingkaran dunia.
Agar lebih keras kita bekerja dan lebih lembut
kita berharap.”
Betapa ingin kuamalkan jiwa ini
sebelum aku lupa menghukumi diri
Sungguh, tak henti mesti kita hijrahkan diri ini
menuju Cinta
Tak henti, tak henti-henti bermanusia
Betapa ingin aku tetap berpaut denganmu, Adikku
seperti puisi-puisi. Seperti doa-doa yang sunyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar